Tetangga Terpapar Covid-19, Haruskah Mereka Dikucilkan?

by Fifi SHN
0 comment

Mendengar istilah COVID-19, tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita ya man-teman.

Gimana tidak, berita tentang virus pandemi ini kan sudah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Bahkan sudah dekat sekali dengan kehidupan. Salah satunya, tetangga satu tembok dengan rumah saya. Mulai dari suaminya, disusul isteri dan anak-anaknya. 

Kini mereka dirawat di rumah sakit, sedang anggota keluarga lainnya terpaksa diisolasi mandiri sampai sekarang. Ya yang diisolasi mandiri inilah sangat dekat sekali, hanya satu tembok dengan keluarga saya. 

Seperti misalnya yang dialami seorang ibu tetangga saya, beliau menjadi  pasien yang sudah sembuh dari COVID-19. Beliau sebelumnya dinyatakan positif menyusul suaminya yang juga dinyatakan positif. 

Tetapi suaminya kini sudah sembuh total. Beliau beserta suami dan anak-anaknya diiolasi secara mandiri di rumahnya, sambil menunggu hasil swab anak-anaknya.

Beliau bercerita kepada ibu saya, katanya meskipun hasil swab sudah dinyatakan negatif dari COVID-19, tapi beliau mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari tetangga dekat. 

Beberapa tetangga menghindar ketika bertemu atau melihat beliau. Seketika mereka langsung berputar arah melewati jalan lain menuju rumahnya. Menegur pun juga enggan. Bukan hanya tetangga dekat saja, bahkan keluarga dekat pun menjauh darinya. 

Itu sih masih mending ya, ketimbang orang lain yang ada tetangganya terkena COVID-19 malah dikucilkan, diasingkan, menolak mereka kembali, bahkan mengusirnya dari rumahnya sendiri dan tinggal seorang diri. Kasihan banget kan?

Tetanggaku adalah saudaraku. (Dok. Foto: Nur Terbit)


Stigma Negatif Pasien Covid-19

Dari cerita tersebut, ternyata masih ada tetangga yang berstigma atau beranggapan negatif pada ibu yang sudah dinyatakan negatif dari COVID-19. 

Mereka takut berdekatan karena dianggap bisa menularkan virus baru lagi. Stigma negatif yang seperti itu membuat beliau mengalami diskriminasi.

Yang paling terpenting menurut saya, adalah rasa empati kita terhadap mereka. Mengapa rasa empati penting? Karena saat stigma negatif muncul itu karena rasa empati ini yang hilang dari masyarakat. 

Empati itu, memahami atau merasakan apa yang orang lain alami dan apa yang mungkin orang lain pikirkan, atau bisa juga diartikan menempatkan diri pada posisi orang lain.

COVID-19 memang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang agama, jabatan, profesi maupun status sosial ekonomi seseorang. Tidak ada orang yang mau terkena penyakit ganas ini.

Jadi, apabila di sekitar kita seperti tetangga terdekat kita ada yang terkena, maka kita bisa melakukan sikap empati dengan perilaku tolong-menolong di kehidupan sehari-hari.

Misalnya dengan membantu sebatas kemampuan masing-masing untuk meringankan beban tetangga kita, baik itu yang menjadi ODP, PDP, orang yang diisolasi mandiri, pasien positif COVID-19, dan pasien yang sudah sembuh.

Tak lupa untuk mengatur ego diri untuk berpikir di luar kepentingan diri sendiri. Dengan begitu, kita akan belajar untuk melihat kepentingan orang lain di samping kepentingan diri sendiri. 

Mereka pasti saling merindukan dengan rasa was-was apakah akan bisa berkumpul kembali kepada keluarga atau tetangga mereka, dan atau berpulang pada Sang Pemilik manusia. 

Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan mereka supaya sembuh dan keluarganya diberi kesabaran. Bukan malah menstigma mereka yang sakit ataupun sudah sembuh dari penyakitnya. 

Supportlah Pasien Covid-19

Kita juga perlu dukung dan memberikan support fisik maupun mental pada mereka. Tentunya dengan tetap memperhatikan protokol yang dianjurkan pemerintah. Terutama dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan tetangga sekitar. 

Selain itu, membentuk moral yang baik, mempunyai rasa kasih terhadap orang lain. Dukungan sekecil apapun dari kita bisa memberi rasa aman dan nyaman terhadap mereka lho.

Seharusnya kita tidak perlu takut dengan kondisi tetangga kita yang sudah sembuh dari COVID-19, apalagi untuk berinteraksi dengannya. 

Selama kita bisa melakukan physical distancing atau menjaga jarak, menggunakan masker, rutin mencuci tangan, dan nutrisi makanan terpenuhi, sudah cukup aman dari risiko tertular virus COVID-19.

Selain itu, kita bisa berinteraksi dengan mereka melalui teknologi komunikasi (telepon, WhatsApp, dan sejenisnya).

Kita kan bisa selalu berwaspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Bukannya malah menjauhinya. 

Jadi tak perlu khawatir berinteraksi dengan tetangga kita yang sudah sembuh dari COVID-19. Jika kita mempunyai stigma negatif terhadap tetangga kita yang sembuh dari COVID-19 akan menimbulkan trauma tersendiri dan menjadi beban pikirannya. 

Beliau akan berjuang mencari cara agar bisa diterima kembali di tetangga dekatnya. 

Hal tersebut kurangnya pemahaman tentang COVID-19 menjadi salah satu penyebab enggannya tetangga saya menegur sapa kembali dengan beliau. 

Karena itu, diperlukan pengetahuan bagaimana menyikapinya agar tidak menjadi beban bagi tetangga kita yang sudah dinyatakan sembuh.

 Bisa juga dengan melibatkan kepala RT, pemerintah dari tingkat pusat hingga desa, ataupun tokoh agama, serta tetangga sekitar yang memiliki peran untuk mengikis stigma/anggapan negatif.

Terutama kepada orang yang sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19 untuk melakukan edukasi dengan sosialisasi terhadap masyarakat.

Di tengah pandemi COVID-19 ini alangkah lebih baik kita mengikuti anjuran pemerintah. Tetap tinggal di rumah. Keluar rumah hanya untuk urusan yang sangat penting dan jangan pergi tanpa masker. Jangan lupa untuk cuci tangan juga.

Rasa empati juga menjadi salah satu komponen penting untuk meningkatkan solidaritas terhadap sesama.

Pada Senin (2/8/2021) pukul 12.00 WIB, kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 22.404. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi 3.462.800 orang.

Sedangkan untuk kasus sembuh, pemerintah Indonesia melaporkan adanya penambahan sebanyak 32.807 orang.

COVID-19 tidak cuma menjadi persoalan kesehatan aja, tetapi hal itu menimbulkan perubahan perilaku masyarakat di Indonesia, seperti cara pandang antar sesama manusia. Salah satunya pada tetangga di perumahan saya.


Fifi SHN

You may also like

Leave a Comment